Saranghanikka (Part 2)

Tittle                : Saranghanikka

Author             : Silly Angel

Rate                 : 21+

Cast                 :

– SJ Eunhyuk as Lee Hyukjae

– Baek Changmi

What a such ending by the way…

Made this in hurry too -.-

Long time do not post something in here, sorry. I found more people come here day by day but there is no “say hi” to me, so I’m lil bit sad…. But yeah, I can’t lie to my self to not say thank for everyone who get lost here and see all my weird dream and fantasy. Hope you patient enough to read every single wold that I write in the future. ^^

_____

Changmi berangkat kuliah dengan lesu. Sebenarnya dia memang selalu merasa tak bersemangat, cemas, dan marah akhir-akhir ini. Changmi duduk di halte bus tak jauh dari rumahnya, menunggu bus yang akan membawanya ke kampus. Diliriknya layar ponsel yang sedang digenggamnya. Tak ada panggilan telfon tak terjawab atau pesan singkat yang di tunggunya. Tak ada berita apapun dari Lee Hyukjae. Tak pernah ada telfon yang membangunkannya setiap pagi. Tidak. Memang tidak pernah ada apapun lagi berita mengenai Lee Hyukjae.

Changmi melangkah menaiki bus yang ditunggunya. Menempelkan kartu angkutan yang dimilikinya untuk membayar bus pada sensor di mesin pembayaran, lalu berjalan menuju kursi penumpang yang kosong. Matanya terpejam. Dia mengingat lagi, mengingat hari dimana dia melihat Lee Hyukjae berjalan di salah satu lorong kampusnya dengan seorang gadis berwajah manis yang menggemaskan bergelayut di lengannya. Gadis yang menurut Lee Jaegyeong sahabatnya adalah mantan kekasih dari Lee Hyukjae pacarnya. Sejak saat itu Lee Hyukjae tak  pernah muncul dihadapannya.

Baek Changmi menarik nafas kencang lalu menghembuskannya tak kalah kencang, kebiasaan yang selalu dilakukan saat dirinya merasa frustasi. Dan akhir-akhr ini dia memang selalu merasa frustasi. Bagaimana tidak, dia sengaja menahan diri untuk tidak langsung melabrak Lee Hyukjae dan gadis itu di hari dia melihat meraka karena dia yakin Hyukjae akan memberikan penjelasan tentang apa yang mereka lalukan saat dia hanya berdua saja dengan Changmi. Tetapi ternyata Changmi salah, Lee Hyukjae tak menjelaskan apapun. Tidak mengirimkan pesan apapun baik pesan singkat melalui ponsel atau dengan cara apa saja yang bisa terfikirkan olehnya. Lee Hyukjae juga tidak menelfonnya. Tidak menghubunginya. Bahkan Lee Hyukjae tidak perah muncul lagi dihadapannya.

Kemarahan memenuhi kepala Changmi setelah satu minggu Hyukjae tak menampakkan batang hidungnya. Tanpa disadarinnya, dia mendapati dirinya mencari-cari kemana Lee Hyukjae pergi, karena laki-laki itu tak ada diapartementnya, tak pernah datang kekampus, tak menemui tema-temannya. Lee Hyukjae menghilang seperti ditelan bumi. Changmi menyayangi laki-laki itu sehingga dia tidak bisa menghindari rasa khawatir yang juga muncul di antara rasa marahnya, dan setelah sekarang hampir dua bulan Lee Hyukjae menghilang Changmi merasa sangat frustasi. Changmi marah karena Lee Hyukjae menghilang. Cemas karena laki-laki tersebut tidak muncul dihadapannya. Takut sesuatu yang buruk terjadi padanya di tempat tak seorangpun mengenal Lee Hyukjae. Frustasi karena setelah hampir setahun berpacaran dengan Lee Hyukjae, selain informasi tentang kedua orang tua Hyukjae yang berada di Los Angles dan teman-teman kampusnya, Changmi tak mengenal siapapun yang mungkin berhubungan dengan Hyukjae. Dan sayangnya teman-teman kampus Hyukjae sama tak tahunya dengan Changmi kemana laki-laki itu.

***

“Changmi-ah kau mau ikut kami makan siang? Ada restoran pasta yang baru buka tak jauh dari kampus aku dan Dana ingin makan disana.” Suara Jaegyeong menarik Changmi dari lamunannya. Changmi menoleh kearah temannya yang sedang membereskan tas disisinya. Mencerna kata-kata yang diterima telinganya, lalu menjawab

“tidak, aku belum lapar, sebaiknya aku ke perpustakaan saja siapa tahu aku bisa menemukan materi yang kubutuhkan untuk tugasku.”

Dirasakannya Jaegyeong berhenti dari aktifitasnya membereskan barang-barang dan menatapnya. Mau tak mau Changmi menoleh lagi pada temannya tersebut.

“Kau masih memikirkannya?” tanya Jaegyeong hati-hati. ”Kau masih memikirkan Lee Hyukjae?”

“Tidak, tentu saja tidak, aku hanya sedang punya masalah dengan tugas-tugasku, kau tahu, terlalu banyak yang telah kutelantarkan dan harus ku selesaikan.” Jawab Changmi dengan nada ceria yang di buat-buat. Changmi mamandang Jaegyeong yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, rasa kasihan juga terpancar dari tatapannya, membuat Changmi merasa semakin buruk. Changmi mencelos ketika bukannya menerima saja alasan Changmi dan berlalu, tapi Jaegyeong malah kembali duduk disampingnya.

“Aku tau kau mencintainya, dan aku juga sempat yakin dia juga mencintaimu, tapi…” Jaegyeong menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya. ”Tapi ini sudah lebih dari tiga bulan Hyukjae menghilang tanpa kabar. Tak bisakah… tak bisakah kau melupakannya? Maksudku, setidaknya bersenang-senanglah. Sudah lama kita tidak pergi bersama, bagaimana kalau kita belanja akhir minggu ini?” tanya Jaegyeong.

Changmi memaksakan senyum diwajahnya. Dia merasa bodoh telah membuat sahabatnya menghawatirkannya, tapi dia juga tak tahu harus bagaimana menjawab kata-kata Jaegyeong.

“Ahhh… kau tenang saja, kalau si brengsek itu muncul, aku akan membantumu menghajarnya sampai dia babak belur!” lanjut Jaegyeong lagi. “Atau mungkin, karena dia tahu kau dan aku tak akan melepaskannya tanpa cacat kalau dia kembali makanya dia takut untuk menampakkan wajahnya?” Kali ini Changmi benar-benar tersenyum.

Gokconghajima Changmi-ah (jangan khawatir)!” Jaegyeong sekali lagi menenangkannya. Changmi hanya mengangguk. “Ahhh dasar brengsek tidak bertanggung jawab!!!” kata-kata Jaegyeong mengingatkan Changmi pada pembicaraannya dengan Lee Hyukjae.

Wae oppa? Lakukanlah, lakukan kalau kau mencintaiku dan akan bertanggung jawab atasku. Saat itu dia dan Hyukjae hampir saja melakukan hubungan badan, tapi kemudian Hyukjae mendapati dirinya masih perawan dan menghentikannya. Hati Changmi terasa perih, apakah memang karena Hyukjae tidak berniat bertanggung jawap padanya, maka dia tidak melanjutkannya saat itu? Apakah Hyukjae memang tidak benar-benar mencintainya?

***

Arraso!” jawab Changmi, mendesah pelan lalu melanjutkan, ”Joha Dana-ah (baiklah), aku sudah harus berangkat kekampus sekarang, kita bicarakan ini nanti yah!” Changmi dan Hwang Dana bertukar salam, kemudian Changmi memutuskan sambungan telepon. Hwang Dana menelponnya untuk memberitahukan bahwa salah satu kenalan gadis itu sebenarnya menyukai Changmi. Changmi sebenarnya sudah tahu. Akhir-akhir ini lelaki yang dimaksud Dana sering sekali menghubunginya dan berusaha mendapatkan waktunya, tapi entahlah bahkan setelah lebih dari tiga bulan menghilang dia masih terlalu mencintai Lee Hyukjae. Walaupun begitu Changmi berusaha bersikap sopan pada laki-laki itu. Atau mungkin dia hanya tidak ingin disudutkan teman-temannya karena dianggap masih tenggelam dalam patah hatinya. “Arrgghh!!! Liat saja Lee Hyukjae, kalau sampai suatu saat aku bertemu denganmu, kau pasti mati!” Umpatnya emosi.

***

“Ah, bukankah kau yang menelponku dan bilang butuh bantuanku, tapi kenapa kau yang datang terlambat? Kau sungguh tidak sopan oppa!” omel Lee Sora pada Lee Hyukjae ketika laki-laki itu akhirnya masuk dalam kelas.

“Mianhae Sora-ah (maafkan aku), bagian administrasi mempersulitku jadi aku harus menyelesaikannya dulu untuk bisa melanjutkan kuliahku makanya aku terlambat, tapi terima kasih sudah mau menunggu.” Jelas Lee Hyukjae berusaha tersenyum manis dan berbicara dengan nada membujuk. Diliatnya Lee Sora mendelik padanya.

“Lalu apa yang oppa inginkan?” kali ini Lee hyukjaae duduk di bangku di hadapan gadis itu, dia tahu dia sudah menang dan Lee Sora akan membantunya.

“Temani aku mencari hadiah.”

“Hadiah? Untuk siapa? Apakah untuk pacarmu Baek Changmi itu?” Hyukjae hanya mengangguk bersemangat menjawab pertanyaan Sora. “Oppa, bukankah kau baru pulang dari luar negeri, seharusnya kau membelikan hadiah untuknya disana bukan malah setelah tiba di Korea dan menyulitkan hidupku.

“Ya sepupu, kenapa kau ini pelit sekali? Kalau bukan karena eomma yang selalu berusaha menyuapiku makanan di sana, aku bahkan tidak sempat membeli makanan untuk diriku sendiri. Appa benar-benar membuatku kerja rodi. Tapi tidak masalah asalkan dia mengabulkan permintaanku.” Kalimat terakhir diucapkan Hyukjae lebih kepada dirinya sendiri.

“Lalu apa bayaran untukku?” tanya Lee Sora dengan wajah angkuhnya.

“Apa yang kau inginkan?” tantang Hyukjae. Sebenarnya dia tidak bermaksud memberikan imbalan apapun pada sepupunya ini, atau tidak lebih dari makan siang, tapi sepertinya dia harus bernegosiasi. Ah Lee Sora memang sepupu  yang menyulitkan.

“Akan kuputuskan nanti, kalau aku sudah menemukannya, hanya pastikan saja kau harus membelikannya untukku.” Jawab Lee Sora dengan senyum mencurigakan.

“Dan pastikan apapun yang kau inginkan, kau tidak merampokku.” Balas Hyukjae cepat.

“Tenang saja sepupu! Ah ngomong-ngomong hadiah apa yang ingin kau berikan padanya?” lanjut Lee sora ketika dia bangkit mengikuti Hyukjae.

“Bukankah karena itu aku mengajakmu? Aku ingin kau memilihkan hadiah yang bisa membuatnya terharu dan memaafkanku.” ungkap Hyukjae pada Lee Sora sepupunya yang mengangguk-angguk tanda mengerti dan menggandeng tangannya.

“Tapi, apa kau yakin dia masih menganggapmu pacaranya? Tanya Lee sora dengan nada mengejek. “Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah membuangmu jauh-jauh dan menganggapmu tidak ada.”

“Apa maksudmu?” tanya Hyukjae. Lee sora baru akan membalas ketika seseorang masuk ke dalam kelas tempat mereka berada, tampak kerepotan dengan tumpukan buku yang dibawanya. Gadis yang kerepotan itu meletakkan bukunya lalu mencari-cari sesuatu didalam tasnya kemudian mengeluarkan ponsel, memeriksa layarnya, menekan serangkaian nomer dan menempelkannya di telinga. Gadis itu mengangkat wajahnya, bertatapan dengan Hyukjae, tampak terkejut.

Jwiseonghaeyo sambaenim (Maafkan aku senior)!” ucapnya cepat dan dingin. Meraup tumpukan buku yang tadi diletakkannya asal saja kemudian keluar dari kelas secepat mungkin.

Hyukjae juga juga terkejut melihat gadis itu, terlalu bingung dengan apa yang terjadi dan pertanyaan Sora menyadarkannya.

Oppa, bukankah itu Baek Changmi?”

***

Baek Changmi berjalan di lorong kampus dengan setumpuk buku di pelukannya. Changmi mendengar suara dentingan dari ponselnya menandakan pesan masuk.  Ia masuk asal saja kedalam kelas kosong terdekat, meletakkan tumpukan bukunya, mengeluarkan ponsel dari tasnya, membaca pesan singkat dari Hwang Dana yang menyuruhnya menelfon. Tanpa berfikir panjang Changmi menekan serangkaian nomer di ponselnya, menempelkan di telinga, mendengar nada sambung pertama. Changmi berencana untuk duduk ketika dia mengangkat wajah dan melihat keseisi kelas. Hatinya mencelos. Darahnya seperti disedot keluar dari tubuhnya, dingin dan gemetar. Berbagai perasaaan berkecamuk dihatinya ketika melihat sosok laki-laki didepannya. Sejenak dia merasakan kelegaan karena melihat Lee Hyukjae berdiri dihadapannya, tampak baik-baik saja. Hatinya didominasi oleh kerinduan, keinginnan untuk berlari dan meleburkan dirinya dalam pelukan hangat kekasihnya. Entahlah, seharusnya dia masih berhak menyebutkan kata itu karena memang diantara mereka tak ada kata putus. Namun kemarahan dan kekecewaan dengan cepat memenuhi hatinya ketika dilihatnya Lee Hyukjae, berdiri dihadapannya, baik-baik saja, dan sedang tersenyum pada seorang gadis manis yang bergelayut di tangannya. Bukan gadis yang dilihatnya bergelayut di lengan Hyukjae berbulan-bulan yang lalu, tapi apakah memang Lee Hyukjae punya kebiasaan menggelayutkan semua perempuan di lengannya?

Jwiseonghaeyo sombenim!” kata-kata itu meluncur cepat dari bibirnya. Dia merasakan sesak. paru-parunya sakit ketika dia berusaha menarik sebanyak mungkin udara untuk menenangkan hatinya. Matanya memanas dan Changmi yakin air matanya akan jatuh jika dia masih bertahan sedetik lebih lama dalam ruangan yang sama dengan pasangan didepannya yang juga sedang menatapnya. Diraupnya tumpukan buku yang tadi deletakkannya diatas meja dan setengah berlari keluar dari kelas. Dia butuh secepatnya meninggalkan kampus dan pulang kerumah. Dia butuh berfikir. Yang dilihatnya terlalu mengejutkan. Dia memang sangat merindukan Lee Hyukjae, tapi bukan Lee Hyukjae yang sedang menggandeng dan tersenyum pada perempuan lain.

“Ya Baek Changmi, chamkamman (tunggu sebentar)!” didengarnya suara yang selalu disukainya memanggilnya sayup-sayup dari belakang. Changmi mempercepat langkahnya yang terbebani setumpuk buku, Lee Hyukjae sedang mengejarnya. Changmi beruntung ketika dia sampai di halte bus depan kampusnya, bis yang akan melewati rumahnya sudah menanti dan ketika dia melangkahkan kaki masuk kedalam bus, menempelkan kartu transportasinya untuk membayar, bus itu bergerak meninggalkan halte. Ia sempat melihat Hyukjae yang putus asa berdiri di pinggir jalan.

***

Changmi seratus persen salah jika menganggap dirinya telah berhasil menghindari Lee Hyukjae. ia sedang berbelok santai masuk kehalaman rumahnya ketika sudut matanya menangkap mobil mewah berwarna putih milik Lee Hyukjae berbelok diujung jalan dengan kecepatan yang agak mengejutkan. Changmi menghela nafas pelan, mempercepat langkahnya, menekan cepat kombinasi angka untuk membuka pintu ketika mobil putih itu berhenti di depan pintu gerbang halaman rumahnya dan seseorang keluar dari pintu pengemudi.

“Changmi-ah, aku mohon dengarkan aku dulu.” Didengarnya suara Lee Hyukjae memohon dibelakangnya. Changmi tak merasa perlu menoleh dia masuk dengan tak peduli, membiarkan pintu tertutup dan otomatis mengunci. Changmi mengucapkan salam singkat ketika bertemu ibunya di ruang tamu, tampak bersiap untuk pergi dan Changmi teringat bahwa ibunya akan menyusul ayahnya ke Busan hari ini, ada acara yang harus mereka hadiri.

Changmi sedang menaiki tangga ke lantai dua menuju kamarnya ketika bel pintu berbunyi dan didengarnya suara eommanya yang bersemangat.

“oh, Lee Hyukjae? jinjja orenmanhiya, jaljinae (lama tak bertemu, bagaimana kabarmu)?”

ye eommonim jaljinaesseoyo… (ya ibu aku baik-baik saja)” merasa tak perlu mendengar lebih banyak Changmi bergegas kekamarnya dan membanting pintu. Buku-bukunya dilemparkan asal saja diatas meja belajarnya lalu dia sendiri beringsut naik ka atas ranjangnya duduk dan memeluk kedua lututnya.

***

Kim Minsun sedang bersiap untuk menyusul suaminya dan menghadiri sebuah pesta di Busan. Kereta api cepatnya akan berangkat dalam dua jam, dan dia sedang menunggu supirnya menyiapkan mobil lalu mengantarkannya ke stasiun ketika pintu rumah terbuka dan anak semata wayangnya masuk.

Baek Changmi masuk kedalam rumah dengan wajah kusut, sedikit kaget melihat Minsoon yang berdiri di ruang tamu. Putrinya itu hanya menggumamkan salam singkat, suaranya sedikit bergetar. Sepertinya dia sedang menghadapi masalah. Minsun hanya mengangguk menanggapi salam anaknya yang berjalan cepat menyeberangi ruang tamu menuju tangga ke lantai atas.

Bel pintu berbunyi. Minsun menoleh pada anaknya yang tampak tak peduli, melirik pada layar di dinding dekat pintu, menghela nafas sedikit ketika dilihatnya siapa di depan pintu. Lee Hyukjae. Ya, ia kenal dengan Lee Hyukjae. Anak laki-laki itu adalah pacar anaknya. Sepengetahuannya hubungan Changmi dan Lee Hyukjae sudah berlangsung lebih dari setahun, walaupun akhir-akhir ini Hyukjae jarang terlihat. Minsun mengerti apa yang menjadi penyebab wajah kusut anaknya.

“Oh, Lee Hyukjae? jinjja orenmanhiya, jaljinae?” sapa Misun pada Lee Hyukjae, sambil menggerakkan tangannya sebagai isyarat mempersilahkan Lee Hyukjae masuk.

Ye eommonim jaljinaesseoyo.” Jawab Lee Hyukjae sambil memberi hormat dengan sopan seperti biasanya. “Jwiseonghaeyo eommeonim, eng… Changmiga issoyo? (maaf bu, tapi apakah changmi ada dirumah?)” tanya Lee Hyukjae canggung. Wajahnya terlihat khawatir.

Minsun melirik jam tangannya, dia harus berangkat ke stasiun sekarang kalau tak mau ketinggalan kereta, atau dia harus menempuh perjalanan Seoul-Busan dengan mobil.

“Changmi ada dikamarnya, kau naik saja ke lantai atas, pintu pertama sebelah kiri!” Lee Hyukjae tampak terkejut mendengar jawabannya. Lee Hyukjae memang cukup sering mengunjungi mereka, tapi selama ini Lee Hyukjae tak pernah melanggar batas.

Ah ye eommonim, jeo… gamsahamnida. (Ah baiklah bu, aku… terimakasih)” Jawabnya, tampak ragu sejenak kemudian menaiki tangga. Misun meraih ponsel dari dalam tasnya mengetik pesan singkat dan mengirimnya sebelum meninggalkan rumah.

Ibu menyusul ayahmu ke Busan dan baru kembali besok. Sepertinya kau dan Hyukjae butuh waktu bicara karena itu ibu tidak berpamitan langsung padamu. Baik-baiklah dirumah.

***

Changmi baru akan tenggelam dalam fikirannya ketika suara gedoran pintu membuatnya tersentak kaget, disusul suara Lee Hyukjae yang memanggil-manggilnya. Sial, bagaimana mungkin laki-laki itu bisa sampai dedepan pintu kamarnya, bagaimana dia bisa membuat eomma mengizinkannya, gerutu Changmi dalam benaknya. Dia beranjak untuk mengunci pintu kamar ketika Lee Hyukjae telah mendorong terbuka pintu kamarnya.

Lee Hyukjae yang berwajah kalut berdiri di ambang pintu kamarnya, tatapannya terlihat ketakutan. Cihh kenapa dia harus menampilkan tatapan seperti itu, memangnya siapa yang dia pikir ditakutinya.

“Siapa kau?” tanya Changmi tajam. Apa yang kau lakukan di rumahku, didepan kamarku?” dilihatnya Lee Hyukjae terbelalak, tatapan ketakutan itu masih ada, tapi juga ada kilatan panik dimatanya. O-oh sepertinya berpura-pura tidak mengenalnya akan memberikan efek lebih bagi laki-laki ini, ini menyenangkan. Fikir Changmi penuh kemenangan.

“Changmi-ah, na ya! (ini aku!)”

“Naojima! (Jangan mendekat!)” perintah Changmi cepat ketika Lee Hyukjae yang gemetar melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya. “Ya nappeun neom, andeureosseo? Naojima!! (ya brengsek apa kau tidak dngar? Jangan mendekat!!)” bentak Changmi lagi ketika Lee Hyukjae yang tampak putus asa tak menggubrisnya malah semakin masuk lalu menutup pintu dibelakangnya. O-ow, sedetik kemudian bibir Lee Hyukjae telah mendarat dibibirnya.

Lee Hyukjae menciumnya intens, dalam, dan frustasi. Satu tangannya merengkuh sisi wajah Changmi sedangkan tangan yang satunya di pinggang Changmi berusaha menghapus jarak diantara mereka. Changmi masih terbelalak mendapati perlakuan Lee Hyukjae padanya. Bagaimana mungkin laki-laki ini berani menciumnya, dikamarnya, ketika ibunya berada di lantai bawah. Changmi mengerjabkan matanya sekali, mencoba mendorong Lee Hyukjae menjauh, tapi yang terjadi malah tubuh mereka berdua terjatuh di ranjangnya. Hempasan itu membuat ciuman Lee Hyukjae terlepas, memberi kesempatan Changmi untuk memberontak.

“Lepaskan aku! Ya, brengsek, kau pikir apa yang kau lakukan, lepas!!”

Changmi meronta berusaha melepaskan diri.

Bogosiphossoyo! (aku merindukanmu)” didengarnya Hyukjae berbisik. Laki-laki itu menarik Changmi dan memeluknya erat. “Aku benar-benar sangat merindukanmu Changmi-ah.” Didengarnya lagi pengakuan Hyukjae yang diucapkan dengan pelan dan dalam. Ada keseriusan dalam suara Hyukjae yang membuat dada Changmi berdebar kencang. Sejujurnya dia juga merindukan Lee Hyukjae, tapi dia tak akan mengakuinya.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Hanya suara debaran jantungnya dan debaran jantung Hyukjae yang terasa karena tubuh mereka menempel erat. Changmi merasa kosong dan bingung. Bingung apakah harus marah, menangis, atau entahlah.

Dia marah. Tentu saja dia sangat marah. Siapa yang akan diam saja ketika laki-laki yang dicintainya tiba-tiba menghilang tanpa kabar berita setelah kau melihatnya menggandeng wanita lain. Dan sekarang laki-laki itu kembali dengan wajah tanpa dosa mengatakan kalau merindukanmu, bahkan menciummu. Tapi kata-kata rindu itu juga mengganggu Changmi. Kata-kata dan ciuman Hyukjae mengganggunya, membuat perasaan rindu dan cemas yang setengah mati berusaha ditekannya ke sudut terkecil hatinya mendesak keluar. Dia bahkan tak mampu mengendalikan dirinya ketika semua itu menyangkut tentang Lee Hyukjae dan ketika Hyukjae kembali menciumnya Changmi menyerah.

***

Lee Hyukjae merasakan hatinya membuncah dalam kelegaan dan kebahagiaan ketika dia kembali menciumi Changmi dan gadis itu tidak menolak. Yah tidak menolak walaupun itu tidak berarti kalau gadis itu membalasnya. Tapi Hyukjae tak peduli, yang terpenting baginya adalah menyampaikan perasaannya, membuat Changmi mengerti bahwa Changmi adalah segalanya bagi Lee Hyukjae. Segalanya yang dicintainya. Segalanya yang diinginkannya. Segalanya yang dia butuhkan untuk hidup.

Hyukjae mencium bibir Changmi lembut, menciumi keningnya, kedua matanya, hidungnya, pipinya, dagunya berusaha menyampaikan cintanya. Perlahan Hyukjae mendorong Changmi agar tertidur di ranjangnya. Dia terkejut tak percaya dan hatinya kembali membuncah dalam kebahagiaan ketika Changmi menurut menggeletakkan dirinya dibawah tindihan Hyukjae. Hyukjae kembali menciumi setiap bagian wajah Changmi dengan lembut dan memuja dan ketika ciuman itu sampai ditelinganya Hyukjae berbisik,

Saranghae...” pelan, dalam, dan sepenuh hati.

Hyukjae melanjutkan ciumannya. Bibirnya menelusuri belakang telinga Changmi menurini lehernya menghisapnya sejenang menjilatnya lembut. Hyukjae masih berkutat dengan leher Changmi namun sebelah tangannya mulai bergerak mengarah menuju kancing kemeja berbahan lembut yang dikenakan Changmi. Hyukjae tak tahu nama bahannya, dia juga tidak peduli, baginya apapun yang dikenakan Changmi, kekasihnya, itu pasti terlihat sempurna.

Hyukjaea mendengar nafas Changmi mulai memburu ketika tangannya sampai pada kancing terakhir gadis itu dan membukanya. Bahan kemeja yang lembut membuatnya meluncur turun dari dada dan perut Changmi, memberikan pemandangan yang mampu membuat junior Hyukjae bereaksi. Hyukjae menyentuh kulit berut Changmi, memandangnya terpesona dan memuja. Mata Hyukjae bergerak untuk menatap mata Changmi, mata coklat gelap favoritnya. Tangannya  mulai menyapu lembut perut Changmi, tapi gadis itu menahannya.

“Tidak oppa, aku mohon berhentilah!” pinta Changmi lirih

Hyukjae memicingkan matanya menatap dalam mata Changmi. Apa yang dikatakan gadis ini, menyuruhnya berhenti? Menolaknya? Kata-kata yang diucapkannya lirih, tapi mampu membuat jantung Lee Hyukjae berhenti berdetak. Tidak! Dirinya tidak bisa berhenti sekarang. Tidak ketika mungkin ini menjadi satu-satunya kesempatan yang dimilikinya. Maka Hyukjae kembali menempelkan bibirnya dengan bibir Changmi, menciumnya lembut, hangat, sepenuh hati.

***

“Tidak oppa, aku mohon berhentilah!” lirih Changmi menahan tangan Hyukjae yang mulai menggerayangi perutnya yang sudah terbuka. Apa sebenarnya yang difikirkannya? Berbaring di bawah tubuh laki-laki itu dan menerima saja perlakuannya. Hyukjae tidak beranjak dari atas tubuhnya namun menghentikan kegiatannya. Matanya dengan cepat menemukan mata Changmi, menatapnya tajam dan dalam. Ada kekecewaan dalam tatapannya, ada permohonan, dan ada keseriusan. Dan kemudian laki-laki itu kembali menciumnya lembut. Sangat lembut, tapi entah kenapa terasa membakar Changmi dari dalam.

“Tidak! Oppa hentikan!” kali ini kata-kata Changmi lebih tegas. Ia mengangkat tubuhnya untuk duduk, berusaha melepaskan diri dari Hyukjae yang memerangkap tubuhnya, tapi laki-laki itu tak bergeming. bukannya mengalah Hyukjae malah mendorong lembut tubuhnya untuk kembali berbaring dan menciumi pundak dan tulang selangkanya dengan lembut.

Changmi masih terus berusaha untuk berontak, tapi seperti dirinya yang ngotot untuk melepaskan diri, Hyukjae juga berusaha keras untuk bertahan. Walaupun begitu tak sekalipun Hyukjae bersikap kasar. Setiap ciuman, kecupan dan sentuhannya begitu lembut. Membuat melayang. Sayangnya justru hal itu yang ditakuti Changmi. Ia takut jika Hyukjae bertahan lebih lama lagi maka Changmilah yang akan mengalah. Cintanya pada Lee Hyukjae, kerinduannya dan sentuhan-sentuhan lembut itu telah secara perlahan membakar tubuhnya dalam nafsu.

Sebelah tangan Changmi terpetangkap dalam genggaman hangat Hyukjae saat berusaha menghalangi tangan tersebut menggerayangi tubuhnya. Tangannya yang lain berusaha mendorong pundak Hyukjae, membuat jarak dengan tubuhnya. Tapi ketika ciuman Hyukjae berpindah kebagian atas dadanya, tubuhnya menghianatinya.

“Eunghh…” desahan itu meluncur begitu saja sebagai reaksi atas perlakuan Hyukjae. membongkar rahasia bahwa pertahanan Changmi runtuh sudah.

Ciuman Hyukjae bergerak semakin liar dan intens menyentuh setiap sisi tubuh Changmi yang dapat disentuhnya. Sesekali menghisap kencang dan menjilatinya. Namun yang membuat Changmi semakin melenguh adalah karena tak sekalipun sentuhan Hyukjae terasa kasar di tubuhnya, sentuhan-sentuhan itu malah seolah menyampaikan perasaan Hyukjae.

Nafas Changmi memburu begitu juga nafas Hyukjae. Hyukajae telah melepaskan tangan Changmi begitu pula dengan bra-nya dan sekarang tangan Changmi sibuk merangkul kedua leher Hyukjae atau meremas rambutnya sesekali. Tangan Hyukjae meremas kedua payudaranya dan apabila tidak sedang sibuk mengulum dan menyesap puncak payudara Changmi maka Hyukjae akan menatapnya memuja dalam senyumnya yang penuh gairah, yang anehnya membuat Changmi merasa Hyukjae sangat seksi membuat mereka sangat intim.

Changmi menikmati sentuhan Hyukjae. Seperti sebelumnya, sentuhan laki-laki itu mampu membuatnya seakan mabuk, begitu menikmati dan tak sanggup untuk melawan. Changmi tak melawan ketika ciuman Hyukjae terus turun menyusuri perutnya. Changmi juga tak melawan ketika Hyukjae mulai membuka kangkangannya bahkan melapaskan celana panjangnya lalu celana dalamnya. Dan ketika Hyukjae menciumi ujung kakinya bergerak naik hingga pangkal pahanya dan sesekali menghisap kuat lalu menggingitnya gemas, Changmi dengan sukarela mengeluarkan desahan dan lenguhannya.

“Eunghh… owwhhh…. eunghh…” Changmi mendesah di sela-sela ciuman dalam yang diberikan Hyukjae. Laki-laki itu sedang menyerang bagian paling sensitif di tubuhnya, memainkannya dengan jari-jarinya yang terasa halus tapi juga mantap.

Ini bukan pertama kalinya dia melihat Hyukjae telanjang sepenuhnya diatas tubuhnya. Ini juga bukan petama kalinya tubuh mereka berdua saling bersentuhan tanpa terhalang sehelai benangpun, namun ketika jari Changmi menyentuh pusat kelaki-lakian Hyukjae dan membuat pemiliknya mengerang menikmatinya dia merasa tubuhnya merinding. Ia dan Hyukjae memang pernah sejauh ini sebelumnya, tapi kali ini Changmi merasa berbada. Ada keyakinan yang tak terbantah dalam hatinya bahwa kali ini akan terjadi. Akhirnya ia akan menjadi milik Lee Hyukjae sepenuhnya.

Hyukjae memberikan tatapan memujanya pada Changmi yang sedang terengah dibawahnya. Gadis itu baru saja mencapai orgasme akibat permainan tangannya. Wajah Changmi yang berkeringat tapi tampak puas, nafasnya yang terengah, tubuhnya yang tergeletak dibawah Hyukjae dan menatap sendu, serta jari-jari gadis itu yang bermain dikejantanannya membuat Hyukjae gila. Semua hal itu membuatnya bernafsu. Ahh tidak, semua itu membuatnya amat sangat bernafsu. Tapi bukan nafsunya yang terpenting saat ini. Yang harus dilakukannya adalah pembuktian.

Hyukjae masih mengingat jelas kata-kata Changmi ketika mereka “hampir” saja berbuat terlalu jauh. Saat itu yang diinginkan Changmi darinya adalah pertanggung jawaban. Karena itulah kali ini Hyukjae akan membuktikannya. Dia akan menandai Changmi sebagai miliknya seutuhnya. Hanya miliknya. Dan jika gadis itu meminta pertanggung jawabannya, Hyukjae akan melakukan itu dengan senang hati.

Didengarnya Changmi kembali mendesah ketika dirinya kembali mengisap dan mengulum puncak dada gadisnya itu. Hyukjae meremas-remas lagi dada Changmi sebentar berusaha mengembalikan libidonya setelah klimaks tadi. Lalu kemudian dia kembali mensejajarkan wajahnya dengan wajah Changmi dan menciumnya dalam. Dirasakannya tubuh Changmi menggeliat dibawahnya saat Hyukjae menyentuh vaginanya. Memainkannya sebentar sebelum menuntun kejantanannya menyentuh vagina Changmi, mengesekkannya, menyapukannya dengan cairan hasil klimaks Changmi.

Hyukjae mencium Changmi lebih dalam berusaha mengalihkan perhatian dari apa yang akan di lakukannya pada bagian bawah tubuh gadis itu. Ini yang pertama kalinya bagi Changmi dan tentu saja bagi dirinya sendiri, pasti akan sakit, dia sudah pernah melihat Changmi kesakitan sebelumnya. Tapi Hyukjae berjanji pada dirinya sendiri bahwa kali ini kesakitan itu akan ditebusnya dengan kenikmatan yang berlipat ganda.

“Eengggggghhhh!!!” Changmi mengerang tertahan saat Hyukjae mendorong masuk kejantannannya pada vagina Changmi. Sempit dan tertahan. Hyukjae tahu itu, maka kemudian dia kembali mendorongkan kejantanannya dengan lebih kencang dan sedikit memaksa.

“Arrrghhh! Owhhh ohhh…” Changmi merintih keras. Hyukjae dapat merasakan reaksi tubuh Changmi yang menegang, bahkan melepaskan ciuman yang diberikan Hyukjae, tangan gadis itu mencengram pundaknya kencang, dan mencakar asal saja punggungnya ketika Hyukjae merasakan pada akhirnya juniornya berhasil menembus sesuatu yang menahan jalan juniornya diliang Changmi. Akhirnya changi adalah miliknya seutuhnya.

Mereka berdua bernafas lega sejenak. Hyukjae menatap intens wajah Changmi yang memerah, dengan rambut berantakan dan berkas-berkas keringat. Dirinya juga bisa melihat jejak air mata di pipi Changmi. Sesakit itukah?

Hyukjae mendapati Changmi balas menatapnya. Gadis itu mengerenyit tidak nyaman ketika berusaha membenarkan posisi tubuhnya di dalam dekapan Hyukjae. Tapi diantara ekspresi menahan sakit dan tidak nyaman yang dirasakan gadisnya itu, Hyukjae juga bisa dengan jelas melihat kilas kebahagiaan di mata Changmi dan hal itu membuatnya lebih percaya diri. Maka Hyukjae dengan perlahan menarik keluar separuh juniornya sebelum menghujamkannya kembali kedalam liang Changmi.

Hyukjae melakukannya dengan lembut dan lambat pada awalnya. Dia masih bisa merasakan rintihan kesakitan dari Changmi, juga reaksi gadis itu yang mencengkram setiap bagian tubuhnya yang berhasil dia gapai. Tapi itu tidak berlangsung terlalu lama hingga akhirnya erangan Changmi berubah menjadi lebih sayup dan menggoda. Gadis itu mulai merintih, merintih dan mendesah dalam kenikmatan yang mulai menyerangnya akibat gesekan kelamin Hyukjae didalam kelamin Changmi. Hyukjae tahu itu karena dia juga mulai merasakan kenikmatan bercinta untuk pertama kali dalam hidupnya.

Hyukjae mulai mempercepat hujaman juniornya pada vagina Changmi seiring dengan tubuhnya yang semakin menegang. Sebelah tangannya meremas payudara Changmi saat tangan yang lain berusaha menopang tubuhnya. Bibirnya menciumi bagian tubuh Changmi mana saja yang bisa disentuhnya, ia tidak terlalu peduli lagi dengan posisi apa yang mereka lakukan sekarang. Teori-teori tentang bercinta tidak lagi penting. Yang terpenting baginya saat ini adalah mendengar erangan kenikmatan Changmi atas perlakuaannya, menikmati tubuh gadisnya yang bereaksi atas apa yang yang dia lakukan, serta mencapai puncak kepuasan.

Tubuh Changmi melengkung dalam pelukannya lalu kemudian bergetar pelan, reaksi yang sama juga dialami Hyukjae tak lama kemudian. Ia merasa lega, puas, dan bahagia. Betapa aneh efek yang bisa ditimbulkan dari sebuah klimaks. Hyukjae tersenyum menatap Changmi yang terengah dan balas menatapnya. Gadis itu sekarang miliknya. Seutuhnya. Hyukaje membenarkan posisi mereka agar lebih nyaman tanpa melepaskan kontaknya juniornya dan vagina Changmi, mendekap Changmi lebih erat

Narang gyeoreulhaejullae? (maukah kau menikah denganku?)” tanya Hyukjae pelan. Suaranya terdengar dalam dan serius. Dilihatnya Changmi mengerjabkan mata, sekali, dua kali, menatapnya bingung.

Mwoya??” gadis itu bereaksi membalas pertanyaan dengan pertanyaan? Apa-apaan itu? “Oppa, apakah kau sedang melamarku?” tanya Changmi lagi dengan wajah polos. Hyukjae hanya mengangguk cepat.

“Kau menghilang begitu saja tanpa kabar lalu tiba-tiba muncul kembali sedang menggandeng perempuan lain, dan kau menerobos masuk kekamarku, memperkosaku, dan masih dalam keadaan tanpa busana seperti ini kau melamarku? Demi Tuhan aku pasti sudah gila.” Hyukjae mendengar omelan panjang Changmi dengan tenang.

“Mungkin kata-kata memperkosa terlalu berlebihan Changmi-ah, bukankah kita sama-sama menikmatinya. Kau tahu benar aku melakukannya karena aku mencintaimu dan kau sendiri pernah mengatakan aku boleh melakukannya kalau aku bisa bertanggung jawab.” Sanggah Hyukjae. “Dan sejak kapan pemerkosaan dilakukan selembut seperti yang kulakukan?” tambah Hyukjae lagi membuat Changmi tampak kehabisan kata-kata.

Gerom, eottae? Narang gyereulhaejullae? (lalu bagaimana? Maukah kau menikah denganku?)” Hyukjae mengulang pertanyaannya. Berdehem pelan berusaha menutupi perasaannya. Dia cemas menunggu jawaban Changmi.

Naega wae? (kenapa aku?)” lagi-lagi gadis itu memjawab dengan pertanyaan. Demi Tuhan, tak bisakah dia hanya menjawab saja kalau dia bersedia?

Noreul saranghanikka! Neo do saranghaeji? (karena aku mencintaumu! Kau juga mencintaikuka?)” jawaban Hyukjae penuh percaya diri, namun suaranya sedikit bergetar ketika mengucapkan kalimat kedua.

“Bukankah kau telah meninggalkanku berbula-bulan lalu…” Hyukjae memejamkan matanya mendengar kalimat menggantung dari Changmi. Tak bisakah gadis ini hanya menerima saja lamarannya terlebih dahulu sebelum meminta penjelasan? Gadis ini benar-benar mengujinya.

“Aku…” Hyukjae ragu sejenak, namun kemudian melanjutkan. “Tidak bermaksud menghilang. Setelah apa yang terjadi di apartemenku malam itu aku menyadari sesuatu. Aku menyadari kalau aku tidak bisa menunggu lagi, aku sangat mencintaimu dan menginginkanmu seutuhnya. Aku ingin memilikimu dan mengambil alih semua tanggung jawab atas dirimu, megambil tanggung jawab untuk memastikan bahwa aku akan selalu membuatmu bahagia. Karena itulah aku berangkat ke Los Angeles secepat mungkin, untuk menemui orang tuaku.”

“Sebenarnya kalau kau mau sedikit saja menahan marahmu dan mendengarkan aku dari awal, besok malam kedua orang tuakulah yang akan datang kesini melamarmu. Appa bersedia menyetujui aku untuk menikah bahkan sebelum menyelesaikan kuliahku dengan syarat aku bisa memenangkan salah satu tender besar untuk perusahaan dan mengerjakannya dengan baik dan itulah yang kulakukan. Appa benar-benar membuatku bekerja keras selama aku di Los Angeles, aku bahkan sampai tidak sempat memberi kabar padamu. Tapi tak masalah, aku berhasil membuatnya pulang ke Seoul untuk bertemu orang tuamu. Jadi… maukah kau menikah denganku?” Hyukjae sekali lagi bertanya pada Changmi diakhir penjelasan panjangnya.

Kali ini Changmi tidak menjawab dengan pertanyaan, tapi juga dia tidak langsung menjawab. Gadis itu menggigit bibirnya, tampak sekali sedang berfikir. Hyukjae menunggu dalam diam, walaupun jantungnya tidak bisa diam. Jantung Hyukjae berdebar kencang dibalik tulang rusuknya. Menit-menit yang dibutuhkan Changmi untuk berfikir seolah menjadi penentu vonis mati baginya. Changmi menghela nafas pelan, lalu menatap dalam mata Hyukjae.

Ne, gyeoreulhaja! (baiklah, ayo kita menikah!)” ucap Changmi sebagai jawaban. Reaksi pertama Hyukjae adalah mengecup lembut bibir gadis itu.

“Aku tahu kau akan menjawab iya, Changmi-ah.” Timpalnya dengan senyum bahagia. Tapi dia tidak bisa memungkiri perasaan lega yang bahkan menjalar sampai ke ujung jari kakinya.

END

Advertisements

41 thoughts on “Saranghanikka (Part 2)

  1. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  2. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  3. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  4. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  5. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  6. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  7. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  8. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  9. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  10. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  11. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  12. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  13. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  14. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  15. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  16. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  17. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  18. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  19. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  20. natalizrizzo says:

    […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  21. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  22. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

  23. […] Saranghanikka (Part 2) (ddreamofangels.wordpress.com) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s